ANTARA ICT DAN MANAJEMEN PENDIDIKAN
Dr. Deni Darmawan, S.Pd.,M.Si
Arah Pembangunan Pendidikan dan ICT
Dr. Deni Darmawan, S.Pd.,M.Si
Arah Pembangunan Pendidikan dan ICT
Pemikiran ideal ini setidaknya harus menjadi dasar kerangka kerja bagi semua pihak dan stakeholder yang duduk pada tataaran manajemen, sehingga dalam menterjemahkannya bias ebih terarah. Sebagai contoh bagaimana ketika para pemangku kebijakan akan melakukan upaya askes dan pemerataan pembangunan SDM guru dipelosok dalam jangka waktu yang cepat?, Maka pertanyaan ini diantaranya apat dijawab dengan salah satu alternatifnya yaitu degan memanfaatkan sarana infrastruktur ICT.
Melalui berbagai terobosan yang dilakukan secara bersama-sama maka semua pihak baik level pemerintahan pusat hingga daerah akhirnya sepakat untuk merumuskan arah pembangunan dan pengembangan ICT sebagai salah satu sub system dalam pembangunan bangsa Indonesia. Dar pemikiran ini maka berikut penulis kutif beberapa hasil dari pertemuan penting para petinggi pemerintahan berkenaan dengan permasalahan serta upaya pemberdayaan dan pembangunan ICT itu sendiri.
Arah Pembangunan ICT dirumuskan oleh Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi (DTIK), yang dibentuk berdasarkan Keppres No. 20.Thn 2006 tanggal 11 November 2006, dengan tugas utama mencakup:
(a) Merumuskan kebijakan umum dan arahan strategis pembangunan nasional melalui pemberydaaan ICT;
(b) Menyiapkan cetak biru da readmap ICT Indonesia guna mewujudkan masyarakat Indonesia yang berbasis pengetahuan pada 2025.
Jika melihat cetak biru yang telah disepakati, maka pembangunan bidang pendidikan hingga menyentuh semua aspek dan system serta subsistem yang ada dalam tatanannya sudah barang tentu harus berada pada jalur yang benar . Ada empat cetak biru yang dapat dijadiakn sebagai panduan dalam penyelenggaraan system pendidikan berbasis ICT, sebagaimana dapat dilihat pada gambar berikut:
Dengan melihat keempat kompoene cetak biri ini selanjutnya bidang pendidikan ternyata apat dipandang sebagai salah satu media paling efektif dan efesien dalam melahirkan dan mencetak SDM Indonesia menuju tahun 2025. Namun sekali lagi bahwa upaya yang harus dilakukan tidak dapat sendiri-sendiri namun harus didukung oleh level manajemen kebijakan yang memadai. Maka unsure lembaga pendidikan formal, Stakeholder dan pihak dinas pendidikan mulai level provinsi hingga kecamatan bahkan sekolah harus secara sinergis melakukan tahapan implementasi dari keempat komponen cetak biru di atas dengan melalui berbagai program kegiatan yang dimilikinya sesuai renstra masing-masing. Namun demikian hingga saat ini akankan keberhasilan akses dan pemerataan yang sudah dicoba dirintis oleh lembaga format yang bertugas didalamnya akan berhasil mencapai pilar ketiga yaitu Mutu. Sebagai contoh dewasa ini system penyelenggaraan pendidikan yang berbasis e-learning, e-edukasi dalam tatanan e-governance yang mendukung ternyata masih belum bias dilaksanakan di seluruh daerah di Indonesis. Tengoklah salah satunya penyelenggaraaan Sistem Pembelajaran Jarak Jauh yang menggunakan Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas), dewasa ini masih belum optimal implementasinya. Namun demikian para penyelenggara, pimpinan dan stakeholder pendidikan lainnya masih tetap bersyukur, karena hingga saat ini bangsa Indonesia masih memiliki SDM guru yang berkualitas, dengan segudang semangatnya untuk mau berubah dan mampu memanfaatkan infrastruktur dan ilmu pengetahuan dan keterampilan di bidang ICT. Dengan demikian ini dapat menjadi suatu keyakinan akan keberhasilan pengembangan system pendidikan jarak jauh, atau di Universitas Penddikan Indonesia (UPI) seering disebut dengan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh).
Ada beberapa point penting dari Keppres tersebut berkenaan dengan hal ini yang diantaranya dapat diadopsi dalam pembangunan pendidikan berbasis ICT, yaitu sebagai berikut:
(a) Melakukan akselerasai dalam akses ICT sehingga dirasakaan masyarakat banyak;
(b) Membangun system yang membantu peningkatan kualitas pelayanan, efisien dan efektivitas fungsi pemerintahan.
Dari kedua point penting serta dilibatkan dengan pelajaran penting dari keppres tersebut, kita semua masih beruntung karena hingga saat ini praktisi dan lembaga formal maupun non-formal yang menyelenggaraakan pendidikan dengan memanfaatkan ICT ini telah berhasil meningkatkan akses yang baik. Sebagaimana penulis kutif dalam salah satu diskusi dengan para pengembangan ICT for Education, bahwa bangsa Indonesia masih bias bersaing dengan bangsa lain dalam hal pemanfaatan ICT, yang diantaranya untuk pembangunan bidang pendidikan. Adapun datanya dapat dilihat pada grafik berikut:
Pembelajaran Online Jarak Jauh dalam Pembangunan Pendidikan.
Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa budaya melek ICT masih rendah, sebagaimana terlihat pada table berikut. Akan tetapi jika diurut hingga 20
Infrastruktur ICT Indonesia: Acces ICT Indonesia masih berada di bawah Negara-negara Tetangga
negara yang telah memamnfaatkan jasa internet ini, maka Indonesia masih termasuk rangking 13.
Indikasinya bahwa kondisi ini memunculkan sebuah pertanyaan penting mengenai bentuk strategi pembangunan pendidikan yang memanfaatkan Teknologi Internet ini hingga saat ini sudah sejauhmana?. Melalaui program pemerintah yang telah berjalan maka banyak program yang digulirkan oleh Departemen Pendidikan Nasional yang berkenaan dengan terobosan dan inovasi pemanfaatan teknologi internet ini untuk mengoptimalkan pilar akses dan pemerataan, yaitu melalui program Jardiknas, Inherent, E-learning, Open Distance Learning, PJJ dan sejenisnya. Sebagai salah satu program yang selama ini telah dikembangkan melalui konsorsium antar berbagai perguruan tinggi termasuk Universitas Pendidikan Indonesia, diantaranya adalah program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dimanfaatkan untuk meningkatkan kualifikasi dan kompetensi guru-guru yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Program PJJ ini dikhususkan untuk piloting projek pertama bersama dengan Seamolec adalah untuk guru-guru sekolah dasar. Adapun system pemanfaatan Teknologi Internet yang digunakan, yaitu dengan memamnfaatkan open source moodle dalam bentuk Learning Management System (LMS. Berkompetisi dalam bidang ICT
Perkembangan ICT tidak bias dielakan lagi, hingga merambah pada system penyelenggaraan pendidikan dengan demikian semua pihak yang terkait di dalamnya mau –tidak mau bahkan harus mampu untuk menguasai, menerapkan, mengembangkan, dan mengkaji riset untuk kemajuan di masa yang akan datang. Adabeberapa hal penting yang hingga saat ini masih tetap menjadi kendala dan masalah mendasar bagi semua pihak mengenai upaya meraih keberhasilan pembangunan pendidikan di Indonesia ini, yaitu maslaah budaya baca, belajar, dan meneliti. Hal ini penting khususnya bagi para guru, dosen dan peneliti. Di mana dalam implementasinya juga hendaknya dapat dipayungi oleh suatu system kebijakan dan pola manajemen yang adaptif sesuai dengan tuntutan inovasi dibidang ICT for Education. Ketika semua itu bias dilewati maka system pengembangan kerjasama antar berbagai kelembagaan formal maupun non formal bahkan informal dalam sinergis melalui suatu jejaring yang komfleksibilitas. Semua ini tiada lain hanya dtujukan pada pembangunan anak Indonesia agar mampu menjadi geenerasi pembangunan bangsa yang mampu berkompetitif dengan bangsa lain.
Luar biasa pak Fajri... trima kasih.. sangat mencerahkan...
BalasHapus